Hi SobatMQ!
Kalau kemarin MQ sudah membahas tentang bisnis rice bowl 10 ribuan, kayaknya kurang sah kalau kita nggak sekalian membahas bagaimana cara menentukan harga pokok penjualan (HPP) rice bowl. Setuju nggak?
Sebab, pada kenyataannya, banyak penjual atau pebisnis pemula yang masih bingung menentukan berapa harga yang pas untuk rice bowl. Berdasarkan pengamatan MQ di lapangan, kebanyakan para pebisnis menjadikan harga kompetitor sebagai patokan. Lebih ‘gila’ nya lagi, menurut MQ bahkan mereka langsung ‘tembak’ harga di bawah harga pasaran. Ajaib nggak tuh?
Hasilnya? Memang luar biasa. Pada 3 bulan pertama penjualan, usahanya laris manis, pembeli banyak berdatangan, tetapi di belakang dapur: penjualnya sedang ngos-ngosan menutup biaya operasional.
Nah, jangan sampai usaha kamu mengalami hal seperti ini ya. Ada baiknya kamu membaca ulasan MQ berikut ini agar kamu tepat menerapkan harga jual yang sepadan untuk dagangan kamu. Sepakat?
Awal Usaha Kelihatan Untung, Padahal Buntung
SobatMQ, pernah nggak kamu melihat atau justru mengalami sendiri bagaimana sebuah tempat makan terlihat ramai namun tidak berkembang? Usahanya segiti-segitu saja. Tampaknya banyak untung, namun ternyata banyak buntung.
Kalau sudah begini, kemungkinan penyebabnya adalah salah menentukan harga penjualan atau kesalahan manajemen. Sebagian besar sahabat saya yang menjalankan usaha, menyebutkan akar permasalahannya adalah tidak menghitung harga pokok penjualan (HPP) dengan tepat.
Harga pokok penjualan adalah harga yang digunakan untuk menghitung seluruh biaya yang dikeluarkan, baik biaya langsung maupun biaya tak langsung untuk menghasilkan suatu barang atau jasa. Biaya tersebut antara lain berupa biaya bahan baku, tenaga kerja, maupun biaya peralatan dan bahan bakar.
Kesalahan utama pebisnis dalam menghitung HPP adalah hanya menghitung biaya bahan saja, tanpa melibatkan komponen lain seperti peralatan, bahan bakar, hingga tenaga kerja.
Kebanyakan para penjual hanya menghitung berapa harga modal bahan dibagi banyaknya barang jadi ditambah untung 10-30% saja. Akibatnya usaha mereka tampak ramai pembeli, namun sepi di laba.
Contoh kecilnya begini, misalkan:
Modal beli bahan pokok sebesar Rp 200.000 menghasilkan 20 porsi. Kemudian dijual seharga Rp15.000. Total pendapatan akhir menjadi Rp300.000,- Untung dong! Belum tentu.
Sekilas memang tampak untung Rp100.000, kan? Namun aslinya belum tentu. Alasannya karena penjual hanya menghitung biaya bahan tanpa menghitung biaya tersembunyi lainnya seperti biaya tempat, listrik, air, gas, tenaga kerja, peralatan, dan lainnya.
Biaya ini memang tidak tampak, namun jika dibiarkan dapat menjadi bom waktu yang suatu saat dapat menagih 'jatah' nya. Makanya tak heran, seperti yang sudah MQ katakan di atas tadi bahwa banyak penjual rice bowl di awal merasa jualannya laku keras, namun tidak berkembang. Penjualan melimpah, tetapi labanya entah kemana. Kosong. Dapat capek saja. Kalau saya sih nggak mau!
Untuk itulah diperlukan gunanya menghitung HPP rice bowl. HPP rice bowl itu adalah biaya yang kamu keluarkan untuk menghasilkan satu porsi rice bowl. Semua biaya, bukan cuma bahan baku saja. Tetapi semuanya. Bahkan waktumu yang digunakan untuk membuat rice bowl itu pun dihitung sebagai biaya tenaga kerja.
Jadi biaya yang dikeluarkan harus dihitung mulai dari biaya beras, lauk, perbumbuan, biaya gas, upah tenaga kerja, biaya air+listrik, kotak makan, plastik, sendok, dan lain-lain.
Semua biaya ini, wajib dihitung untuk menentukan HPP dagangan nantinya, apakah rice bowl atau jenis dagangan lainnya. Kalau ini sudah tercatat semua, nanti tinggal dilanjutkan perhitungan HPP secara detail.
Kesalahan Paling Umum dalam Menghitung Harga Pokok Penjualan
1. Melupakan Biaya Kecil
Semua bahan dan barang yang berkaitan dengan proses produksi harus dihitung sebagai biaya. Dalam hal rice bowl, jangan sampai hanya mengeluarkan biaya bahan utama tetapi lupa mencatat biaya bahan-bahan kecil lain yang terkait.
Misalnya, kamu cuma menghitung biaya bahan utama seperti ayam, bumbu, minyak, dan nasi saja. Sedangkan biaya pendukung seperti gas, sendok, dan plastik lupa dimasukkan. Ini dapat memicu timbulnya kerugian usaha kemudian hari.
2. Harga jual hanya berdasar riset pasar
Sob, kesalahan umum lainnya dalam penentuan HPP adalah penentuan harga penjualan berdasarkan harga pasar. Jadi semisal harga pasar 10 ribu, maka otomatis kita ikut-ikutan menjual dengan harga serupa. Padahal modal awal sendiri lebih dari 10 ribu.
Misalnya saja seperti ini untuk 1 porsi rice bowl modalnya adalah:
- Beras Rp1.000,-
- Ayam Rp 3.000,-
- Saus & bumbu Rp 1.000,-
- Minyak Rp 500,-
- Box,sendok, plastik Rp2.000,-
- Gas & listrik Rp1.000,-
- Tenaga Rp 500,-
- Total Rp 9.000,-
Jika kamu jual harga 10 ribu, artinya kamu hanya mendapat keuntungan Rp 1000,- per porsi.
Secara hitung-hitungan bisnis makanan cepat saji, keuntungan minimal 30% dari harga pokok penjualan. Karena memperhitungkan biaya bahan yang mudah rusak, tidak laku, bahkan kenaikan harga bahan yang fluktuatif.
3. Takut menaikkan harga di atas harga pasar
Nyatanya meskipun sudah tahu harga dapurnya sekian, namun masih saja ada yang nekat mengambil untung tipis, dengan dalih sebagai promosi usaha. Padahal, jual murah itu hanya akan membuat kita ‘tutup’ perlahan.
Cara Menentukan Harga Jual Rice Bowl
SobatMQ, sekarang kamu sudah tahu kalau harga pokok penjualan rice bowl itu misalnya adalah Rp 9.000,- per porsi. Lalu gimana caranya agar kamu bisa menentukan harga jual yang masuk akal?
Untuk memudahkan menentukan harga jual, kamu bisa menggunakan rumus sebagai berikut:
Harga jual = HPP + keuntungan
Misalnya kamu mau untung Rp 5.000,- per porsi maka Rp 9.000,- + Rp5.000,- = Rp 14.000,- per porsi.
Jika dirasa harga ini masih terlalu tinggi dibanding harga pasaran, kamu perlu meninjau ulang biaya HPP di awal. Kemungkinan yang bisa kamu ambil adalah meninjau HPP atau mengurangi keuntungan.
Trik Agar Harga Murah Tapi Tetap Untung
Sob, kalau kamu melihat kompetitor bisa menjual dengan harga dibawah perhitunganmu, kamu perlu menggunakan trik yang sering dipakai pebisnis makanan, seperti:
1. Gunakan bahan yang fleksibel
Kunci dari rice bowl adalah ayam, maka kamu perlu modifikasi ayamnya dengan menu berbeda seperti menggunakan menu ayam teriyaki alih-alih ayam goreng biasa. Bisa juga memberi tambahan mie goreng untuk mengurangi porsi lauk utama, dan semisal. Variasi menu dapat menjadikan porsi lauk utama berkurang karena adanya penambahan bahan lain pada menu.
2. Beli bahan dalam jumlah besar
Pembelian bahan dalam jumlah besar tentu saja dapat mempengaruhi harga modal. Kamu perlu melakukan survei di beberapa pedagang sebelum membeli bahan sebagai stok. Harga bahan akan mempengaruhi margin penjualan nantinya.
3. Main topping tambahan
Untuk menaikkan margin penjualan kamu bisa bermain di topping tambahan. SobatMQ bisa membuat tambahan menu semisalnya:
- Tambah telur + Rp3.000
- Extra ayam + Rp5.000
Jadi harga rice bowl original tetap di harga 10 ribuan, tetapi kamu bisa menambah margin dengan menggunakan trik ini. Saya melihat sudah banyak penjual menggunakan cara ini lho.
4. Kontrol porsi dengan konsisten
Hal yang paling sulit dalam jualan makanan adalah menentukan porsi yang pas. Kalau SobatMQ tidak menggunakan takaran standar atau memiliki takaran sesuai HPP, siap-siap kamu akan terjebak dalam ketidakkonsistenan porsi hehe..
Cara di atas memang nggak menjamin jualan kamu bakal untung terus. Tetapi, setidaknya cara ini sebagai tindakan preventif mencegah jualan cuma dapat payah. Capek saja.
Penutup
Kalau ngomongin jualan/usaha makanan, sebenarnya tidak ada pakem baku. Yang ada adalah kamu akan paham dengan sendiri bagaimana kamu bergelut dengan keadaan, harga, dan realitas untuk mendapat laba yang setara usaha.
Benar sih kata pepatah: pengalaman adalah raja. Semakin lama kamu bergelut di dunia kuliner, lambat laun kamu akan punya trik sendiri bagaimana mencapai margin maksimal.
Menurut saya sih, untung itu sekadarnya saja yang penting usaha terus jalan, tapi sisa hasil usaha bisa dipakai investasi emas atau properti hahaha..
Pokoknya, kamu harus paham cara menentukan harga pokok penjualan (HPP) rice bowl, agar kamu nggak terjebak untuk sekadar jualan. Tapi kamu sedang membangun bisnis yang bisa diandalkan. Sepakat? Yuk jualan!
Salam,
MQ



Posting Komentar
Posting Komentar